Overblog Follow this blog
Administration Create my blog

Cara Penyimpanan ASI Perah yang Benar

Published on

Cara Penyimpanan ASI Perah yang Benar

ASI perahan yang tidak segera diminumkan kepada bayi membutuhkan penyimpanan khusus untuk menjaga kualitasnya. Penyimpanan ASI sebaiknya menggunakan botol kaca untuk mencegah adanya ASI atau zat gizi pada ASI yang tertinggal bila menggunakan botol dari bahan plastik. Cara penyimpanan ASI perah bergantung pada rencana waktu pemberian ASI tersebut kepada bayi. Apabila ASI tersebut akan diberikan kepada bayi dalam waktu kurang dari 6 jam setelah pemerahan, maka penyimpanan pada suhu ruang tidak menjadi masalah. Sedangkan bila ASI akan diberikan dalam waktu kurang dari 24 jam, ASI harus disimpan dalam termos dingin yang telah diberi es.

Pemberian ASI perahan dalam jangka waktu lebih dari 24 jam membutuhkan teknik penyimpanan khusus menggunakan mesin pendingin. Pemberian ASI perah kepada bayi dalam jangka waktu kurang dari 72 jam membutuhkan penyimpanan di suhu dingin atau sekitar -5°C. ASI dapat disimpan di refrigerator, tetapi tidak disarankan disimpan dalam keadaan beku atau disimpan di dalam freezer.

Cara penyimpanan ASI perah dengan menggunakan freezer atau dibekukan hanya boleh dilakukan untuk ASI yang akan diberikan dalam jang waktu lebih dari 72 jam setelah pemerahan. ASI yang telah dibekukan dapat bertahan hingga 6 bulan. Dalam penyimpanan ASI perah, penanggalan dan penulisan waktu pemerahan sangat penting dilakukan untuk mengenali masa simpan ASI. Untuk menggunakan stok ASI, sebaiknya menggunakan metode first in first out, dimana ASI yang lebih dulu disimpan harus digunakan terlebih dahulu pula.

Disinlah pentingnya penanggalan pada setiap botol yang digunakan untuk menyimpan ASI. Semalam sebelum ASI akan diberikan, sebaiknya ASI beku dipindah dari freezer ke refrigerator. Keesokan harinya, ketika akan memberikan ASI kepada bayi, hangatkan dalam air panas selama 15 menit ASI yang telah ditempatkan pada refrigerator tersebut. Berikan ASI kepada bayi dengan menggunakan sendok, jangan menggunakan botol. Pemberian ASI dengan botol akan menyebabkan bayi tidak mengenali lagi putting ibu atau mengalami bingung putting. Hal ini tentu saja akan mengganggu proses menyusui langsung pada ibu.

Share this post

Repost 0

Memantau Pertumbuhan Bayi

Published on

Memantau Pertumbuhan Bayi

Masa bayi dan balita merupakan periode pertumbuhan yang sangat penting dalam siklus kehidupan manusia. Pada masa ini, perkembangan dan pertumbuhan berbagai anggota tubuh akan berlangsung sangat cepat. Pemantauan pertumbuhan bayi perlu dilakukan untuk mendeteksi adanya kegagalan pertumbuhan, serta memastikan status kesehatan bayi itu sendiri, seperti adanya gangguan metabolisme, radang pencernaan, dan lain-lain.

Pemantauan pertumbuhan umumnya dilakukan di posyandi setiap bulannya, dengan media kartu menuju sehat atau KMS. Dengan rutin melakukan penimbangan bayi, maka ibu dapat mengetahui status gizi bayinya dari grafik yang terlihat di KMS tersebut. Pemantauan pertumbuhan bayi biasanya dilakukan dengan melihat indikator berat badan dan tinggi atau panjang badan bayi pada umur tertentu.

Perkiraan pertambahan berat badan bayi bervariasi berdasarkan umurnya. Bayi berusia 10 hari rata-rata memiliki berat badan yang sama atau bahkan berkurang sekitar 10% dari berat lahirnya. Kenaikan berat badan bayi biasanya baru terjadi setelah 10 hari setelah kelahiran dengan penambahan sebanyak 20-30 gram per hari atau 150-200 gram per minggunya.

Ketika mencapai usia 5 atau 6 bulan, berat badan bayi akan meningkat hingga 2 kali lipat dari berat lahirnya. Dan ketika bayi mencapai usia 12 bulan, berat badanya akan mencapai 3 kali berat lahirnya. Status gizi bayi bervariasi dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor genetik, pola makan, serta status gizi ibu ketika hamil sangat mempengaruhi berat badan dan pertumbuhan bayi.

Umumnya, bayi yang menyusu ASI memiliki pertambahan berat badan yang lebih cepat dibanding bayi yang menyusu susu formula di 3 sampai 4 bulan awal kehidupannya. Kecepatan pertambahan berat badan ini kemudian akan menurun pada bulan-bulan berikutnya. Ketika pada pemantauan pertumbuhan bayi ditemukan garis KMS selalu berada di bawah garis merah namun selalu terjadi kenaikan berat badan disetiap bulannya, maka bisa jadi anak tersebut tidak mengalami gagal tumbuh. Potensi genetic anak juga dapat berpengaruh terhadap hal tersebut.

Share this post

Repost 0

Cara Meredakan Bayi Yang Nangis Terus

Published on

Cara Meredakan Bayi Yang Nangis Terus

Tidak mudah menjaga si bayi yang baru saja dilahirkan, terutama bagi mereka orang tua baru. Tidak jarang bayi akan terus-terusan menangis tanpa alasan yang akibatnya bisa mengganggu anda para orang tua, dan tentunya orang-orang di sekitar anda. Oleh karena itu, jika bayi ada menangis, ada baiknya anda harus cepat tanggap dalam menanganinya karena tangisan bayi bisa berarti macam-macam, misalnya tangisan bayi bisa berarti mereka sedang sakit, mereka lapar, haus, kencing, ataupun sedang buang air besar.

Oleh karena itu anda harus dapat membedakan tangisan bayi anda terlebih dahulu sebelum melakukan langkah-langkah yang tepat untuk meredakan tangisan bayi yang terus menerus. Pada dasarnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk meredakan tangisan bayi yang terus menerus.

Umumnya, bayi akan diam jika diberikan apa yang dia mau. Namun apabila cara ini tidak berhasil, maka anda bisa melakukan langkah-langkah mudah berikut ini. Pertama, gendong bayi anda. Cara ini biasanya akan sangat ampuh untuk meredakan tangisan bayi anda. Ini disebabkan karena biasanya bayi hanya ingin digendong oleh orang tuanya karena mereka merasa nyaman dan aman jika ada seseorang yang memeluknya.

Cara kedua yang bisa anda lakukan jika cara ini tidak berhasil adalah dengan menyentuh kulitnya dengan sayang. Efek dari cara ini sama dengan cara yang pertama tadi, si bayi akan merasa nyaman dan aman karena anda selalu berada di samping mereka menjaga mereka. Yang ketiga, anda bisa mengipasi bayi anda. Kebanyakan bayi menangis juga karena kepanasan karena aktifnya mereka bergerak. Oleh karena itu, cara yang tepat adalah dengan mengipasi bayi anda dan mengajaknya berbicara dan tertawa.

Share this post

Repost 0

Ciri-Ciri Bayi Yang Kurang ASI

Published on

Ciri-Ciri Bayi Yang Kurang ASI

Sebagai seorang ibu, pernahkah anda bertanya, sudah cukupkah ASI yang anda berikan untuk bayi anda? Hal ini sangat penting untuk dipertanyakan kepada diri anda sendiri sehingga si kecil bisa mendapatkan asupan asi yang cukup dari anda. Kekurangan asupan asi bisa membuat si kecil kurus dan tidak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Pada banyak kasus, orang tua sering sekali tidak mengetahui apakah si kecil sudah mendapatkan asupan asi yang cukup atau belum. Tentu saja hal ini akan sangat mengganggu karena si bayi yang kurang ASI bisa menjadi sangat kurus, dan tentu saja akan gampang sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, orang tua, terutama si ibu harus tahu apa ciri-ciri bayi yang kurang asi.

Ada beberapa ciri yang bisa diperhatikan dengan mudah oleh ibu apabila si kecil memang kurang ASI. Ciri yang pertama yaitu si bayi akan tampak terus menerus lapar dan jarang sekali terlihat puas sehabis menyusu. Ini bisa dilihat dengan mudah ketika ASI tidak lagi diberikan kepada bayi, maka bayi akan menangis terus menerus, namun ketika ASI kembali diberikan, si bayi akan langsung terdiam. Ini ciri yang mudah sekali dilihat jika si bayi kekurangan ASI.

Ciri yang kedua adalah bayi menjadi sangat lemas dan tidak berminat untuk menyusu kepada ibu sama sekali. Hal ini juga bisa menjadi ciri apabila bayi kekurangan ASI. Ciri yang berikutnya yaitu bayi akan mempunya selaput lendir di mulut yang kering yaitu pada bagian mulut bayi yang tidak mengkilap dan tidak tampak basah. Sedangkan ciri yang terakhir yaitu kulit si bayi akan tetap tegang saat anda dengan lembut mencubit kulit lengan, kaki, ataupun perut si bayi dan kemudian melepaskannya.

Share this post

Repost 0

Apa Saja Penyebab Bayi Susah Gemuk?

Published on

Penyebab Bayi Susah Gemuk

Setiap orang tua yang baru saja mempunyai bayi pasti akan berharap bahwa bayi mereka bisa gemuk dan sehat. Namun adakalanya keinginan mereka itu tidak tercapai karena bahkan ketika sudah menginjak 2 bulan, si bayi masih tetap saja mempunyai bobot yang sama. Padahal, jika mengacu pada umur mereka, seharusnya bobot tubuh mereka bisa naik.

Oleh karena itu, orang tua khususnya ibu harus memperhatikan kondisi ini agar tumbuh kembang si bayi bisa berjalan normal, dan bobot bayi bisa bertambah, bayi menjadi gemuk dan tentunya sehat. Diperlukan perhatian yang khusus dari orang tua agar bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga penanganan yang tepat bisa segera dilakukan ketika bayi sudah terindikasi kekurangan nutrisi.

Pada dasarnya, ada beberapa penyebab bayi menjadi susah gemuk. Yang pertama adalah asupan nutrisi yang kurang. Pada bayi yang berumur 0-6 bulan, makanan utama mereka adalah ASI ibu. Apabila bayi pada usia ini masih belum juga bertambah bobotnya, hal ini bisa diakibatkan karena asupan nutrisi pada ASI yang diberikan si ibu pada bayi sangatlah kurang.

Oleh karena itu, untuk menanganinya, si ibu harus cukup mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi tinggi, dan yang pasti yang bisa memicu derasnya air susu ibu itu sendiri agar asupan nutrisi pada bayi bisa tercapai dengan baik. Ingat, apa yang akan dimakan ibu yang menyusui akan masuk kedalam tubuh bayi juga.

Oleh karena itu, si ibu harus pandai memilih makanan apa yang tepat bagi dia dan bayinya. Penyebab yang kedua adalah penyakit. Jika hal ini adalah penyebab dari kurusnya si bayi, maka solusi yang tepat yang harus dilakukan oleh si ibu adalah dengan cara membawanya ke dokter anak agar mendapatkan penanganan dan solusi yang tepat langsung dari dokter.

Share this post

Repost 0

Penanganan Masalah Psikologis pada Ibu Menyusui

Published on

Penanganan Masalah Psikologis pada Ibu Menyusui

Masalah menyusui tidak hanya terkait dengan masalah pemberian ASI pada bayi. Sering kali faktor psikologis pada ibu sendiri lah yang menghambat proses menyusui disamping gangguan fisik. Pada ibu menyusui, terutama ibu yang baru pertama kali melahirkan, menyusui adalah sebuah proses baru yang sering menimbulkan stress. Di sisi lain, kondisi kejiwaan ibu sangat mempengaruhi produksi air susu ibu. Oleh karena itu, penanganan masalah psikologis pada ibu menyusui harus sangat diperhatikan untuk membantu kelancaran pemberian ASI Eksklusif yang sangat penting peranannya bagi kehidupan bayi.

Sindroma ASI kurang merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh ibu menyusui. Sindroma ASI kurang merupakan masalah kekurang percayaan dan kekhawatiran berlebihan pada diri ibu karena menganggap dirinya tidak dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk anaknya. Padahal sebenarnya tubuh ibu dengan sendirinya telah menyesuaikan jumlah ASI yang diproduksi berdasarkan kebutuhan sang bayi. Jadi dengan kata lain tidak mungkin seorang ibu memproduksi ASI kurang dari kebutuhan bayinya. Produksi ASI dapat ditingkatkan dengan sering-sering menyusui bayi. Jangan biarkan bayi tidak menyusu lebih dari 2 jam, dan berikan ASI dari kedua payudara ketika menyusui. Usahakan untuk melakukan proses tersebut hingga payudara terasa kosong. Apabila ibu bekerja, maka perahlah ASI setiap 2 jam sekali untuk merangsang produksi berikutnya.

Masalah psikologis pada ibu menyusui yang sering ditemui lainnya adalah ibu merasa air susu tidak keluar. Hal ini sering mendorong ibu untuk memberikan susu formula kepada anaknya yang baru lahir. Padahal sebenarnya bayi dapat bertahan hingga tiga hari tanpa ASI, sehingga pemberian susu formula tidak perlu diberikan selama periode waktu tersebut, sambil menunggu ASI ibu keluar. Selama waktu tersebut, ibu dapat terus merangsang payudara untuk mengeluarkan ASI dengan melakukan pijatan-pijatan kecil di daerah payudara. Selain itu, kondisi cemas, gelisah, takut, dan stress juga harus dihindari karena akan menghambat proses produksi ASI. Yang terpenting adalah komitmen dan keyakinan ibu untuk memberikan ASI eksklusif, sehingga dengan sendirinya tubuh akan merangsang produksi dan pengeluaran ASI.

Share this post

Repost 0

Mengenali Potensi Tinggi Badan Anak

Published on

Mengenali Potensi Tinggi Badan Anak

Tinggi badan merupakan salah satu indikator pertumbuhan anak. Tinggi badan merupakan salah satu penanda status gizi anak di masa lampau. Anak yang pendek atau tidak bertambah tinggi dalam kurun waktu tertentu sering dikaitkan dengan kejadian kegagalan pertumbuhan. Padahal, tidak semua anak dapat mencapai tinggi badan sesuai ukuran normal. Potensi tinggi badan anak bergantung pada banyak hal, misalnya asupan makanan, pengaruh lingkungan, serta potensi genetik dari orang tua anak tersebut.

Berbeda dengan berat badan bayi, pertambahan tinggi atau panjang bayi relative tidak terlalu terlihat setiap bulannya. Pada tahun pertama usia bayi atau 1 tahun, biasanya panjang badan bayi akan bertambah sekitar 25 cm dari panjang badan lahirnya. Pertambahan panjang atau tinggi badan ini kemudian akan semakin melambat seiring bertambahnya umur bayi. Hingga usia 4 tahun, panjang badan atau tinggi badan anak hanya akan bertambah 10 cm per tahunnya dari tinggi atau panjang badan ketika bayi berusia 1 tahun. Kemudian pertambahan tinggi badan akan melambat menjadi 5 cm per tahun hingga anak mencapai usia 12 tahun.

Perlu disadari bahwa setiap anak memiliki potensi tinggi badan yang berbeda-beda. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berperan penting. Anak dengan kedua orang tua yang tinggi bisa saja tumbuh dengan tinggi badan yang pendek akibat kurangnya asupan zat gizi. Sebaliknya, anak dengan kedua orang tua yang pendek bisa jadi memiliki badan yang tinggi dengan tercukupinya kebutuhan gizi yang baik serta lingkungan yang sehat.

Potensi tinggi badan anak dapat dikenali dengan menghitung tinggi badan masing-masing orang tua, karena faktor genetik juga merupakan faktor penentu pencapaian tinggi badan anak. Bagi anak laki-laki, potensi tinggi badannya dapat dihitung dengan total tinggi orang tua ditambah tinggi badan ibu yang telah ditambah 13 kemudian hasil tersebut dibagi 2 (((TB ayah+TB ibu) + (TB ibu + 13)):2). Sedangkan pada anak perempuan, potensi genetik tinggi badannya dapat dihitung dengan mengurangi tinggi badan orang tua dengan angka 13, kemudian menambahkan angka tersebut dengan tinggi badan ibu dan hasilnya dibagi dengan angka 2 (((TB ayah+TB ibu+13)+TB ibu):2).

Share this post

Repost 0

Fase-fase Perkembangan Bayi

Published on

Fase-fase Perkembangan Bayi

Fase-fase perkembangan bayi penting untuk diketahui sebagai salah satu cara melakukan deteksi dini masalah perkembangan anak, seperti balita autisme. Pada umur-umur tertentu, bayi telah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya menggunakan berbagai bahasa isyarat. Bayi akan mulai menunjukkan perkembangan melalui perilakunya semenjak usia 1 hingga 2 minggu setelah kelahirannya.

Perilaku utama yang dapat ditunjukan bayi adalah mengeluarkan suara. Hal ini biasanya terjadi ketika bayi berusia satu hingga dua minggu. Ketika bayi menginjak usia 4 hingga 6 minggu, bayi dapat menunjukkan respon dengan tersenyum. Fase-fase perkembangan bayi pada bulan berikutnya adalah munculnya kemampuan bayi untuk menegakkan kepalanya maupun tengkurap dengan bantuan pengasuh. Perkembangan ini terjadi ketika bayi memasuki usia 12 hingga 16 minggu. Selain dapat mengangkat kepala dan tengkurap, pada usia ini bayi juga telah belajar memegang benda yang diletakkan di tangannya. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya kemapuan bayi untuk meraih benda di sekitarnya ketika bayi berusia 20 minggu.

Ketika bayi berusia 26 minggu, bayi biasanya telah memiliki kemampuan untuk memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Selain itu, bayi juga sudah dapat duduk sendiri dengan bantuan kedua tangannya kedepan. Pada usia ini, bayi sudah dapat memegang dan memakan biscuit sendiri. Ini adalah usia yang tepat untuk mulai mengajari anak makan sendiri karena anak telah belajar mengatur keseimbangannya.

Fase-fase perkembangan bayi lainnya dapat dilihat ketika bayi mencapai usia 9 atau 10 bulan. Pada usia ini, bayi sudah mampu menunjuk suatu barang yang jauh dari jangkauannya dengan jari telunjuk, memegang benda dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk saja, bersuara tanpa arti, serta belajar merangkak. Sedangkan ketika bayi menginjak usia 13 bulan, bayi telah mampu berjalan sendiri dan menyebutkan satu kata yang memiliki arti, seperti misalnya “mama”. Stimulasi dini perkembangan balita dapat diberikan dengan mengajarkan hal-hal sederhana seperti mengancingkan baju sendiri untuk meningkatkan kecerdasan anak. Stimulasi yang tepat di usia yang tepat akan membantu mengoptimalkan fase-fase perkembangan bayi.

Share this post

Repost 0

Pertumbuhan Lingkar Kepala Bayi

Published on

Pertumbuhan Lingkar Kepala Bayi

Pertumbuhan lingkar kepala bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur pertumbuhan otak anak. Selain itu, pengukuran lingkar kepala secara rutin juga merupakan salah satu cara untuk mendeteksi gagal tumbuh pada bayi, seperti makro maupun mikrosefalus dan penyakit-penyakit tertentu pada bayi hidrosefalus. Pertumbuhan kepala terjadi dengan sangat pesat pada usia bayi dibandingkan pada usia-usia lainnya dalam siklus kehidupan. Oleh karena itu, perubahan lingkar kepala bayi akan dapat dilihat dengan mudah.

Ketika bayi lahir, rata-rata ukuran lingkar kepala bayi adalah 35 cm, atau lebih kurang 1 hingga 2 cm lebih besar dari ukuran lingkar dadanya. Kecepatan pertumbuhan lingkar kepala bayi bervariasi tergantung umur bayi tersebut. Sebelum mencapai usia 6 bulan, pertumbuhan lingkar kepala terjadi dengan cepat. Ukuran lingkar kepala bayi akan bertambah sekitar 2 cm pada 1 bulan pertama usia bayi. Kemudian ukuran lingkar kepala bayi akan bertambah sebanyak lebih kurang 6 cm pada 4 bulan pertama kehidupannya.

Pertumbuhan lingkar kepala bayi akan melambat ketika bayi mencapai usia 6 bulan. Pada bayi berusia 6 bulan, biasanya ukuran lingkar kepalanya adalah sebesar lebih kurang 44 cm. Dan ketika bayi mencapai usia 12 bulan atau 1 tahun, lingkar kepala bayi telah mencapai ukuran lebih kurang 47 cm. Namun demikian pertumbuhan lingkar kepala baru akan berhenti ketika bayi mencapai usia 4 tahun.

Bertambahnya ukuran lingkar kepala mengindikasikan bertambahnya pula volume otak bayi. Berat otak bayi bertambah sebanyak dua kali lipat ketika bayi mencapai usia 4 hingga 6 bulan. Dan ketika bayi menginjak usia 12 bulan atau 1 tahun, berat otak bayi telah bertambah sebanyak 3 kali lipat dari berat otak ketika bayi lahir.

Pengukuran lingkar kepala bayi sebenarnya dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Cara pengukuran ini dapat dilakukan dengan menggunakan meteran kain. Dudukkan anak pada posisi yang nyaman, kemudian lingkarkan pita meteran sejajar mengelilingi kepala anak, melewati glabella atau area diantara kedua alis dan diatas hidung. Jika pertumbuhan lingkar kepala bayi tidak mengalami perubahan lebih dari 2 bulan atau tumbuh terlalu besar, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Share this post

Repost 0

Hidrosefalus dan Dampaknya Bagi Kesehatan Balita

Published on

Hidrosefalus dan Dampaknya Bagi Kesehatan Balita

Hidrosefalus merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh gangguan aliran cairan dalam otak atau disebut juga gangguan aliran serebrospinal. Penyakit ini dapat dideteksi dengan mudah dengan cara melihat ukuran pertumbuhan lingkar kepala bayi. Pertambahan ukuran yang tidak wajar atau terlalu besar dibandingkan ukuran normalnya merupakan salah satu indikasi yang harus diwaspadai pada penyakit ini.

Hidrosefalus dapat terjadi akibat berbagai faktor, baik yang terjadi selama kehamilan maupun yang terjadi setelah kelahiran sang bayi. Salah satu penyebab bawaan atau kongenital yang dapat memicu timbulnya penyakit ini adalah serangan virus toxoplasma, yaitu virus yang ditularkan oleh hewan-hewan mamalia seperti kucing, anjing, dan lain-lain. Menghindari sentuhan dengan hewan-hewan peliharaan selama masa kehamilan dapat mengurangi resiko anak anda terserang penyakit ini. Penyebab lainnya yang mungkin memicu timbulnya hidrosefalus adalah meningitis bakterikal atau radang selaput otak akibat adanya infeksi bakteri, perdarahan intraverikuler atau perdarahan spontan di otak, maupun kelebihan vitamin A atau hipervitaminosis A.

Gejala dari penyakit ini selain dapat dikenali dari kelainan pertumbuhan kepala juga dapat dilihat dari indikasi-indikasi lainnya. Bayi dengan tangisan pendek, bernada tinggi, dan bergetar merupakan salah satu ciri penyakit hidrosefalus. Gangguan mental dan perkembangan motorik juga sering ditemui pada bayi atau balita yang menderita penyakit ini. Pada anak dengan ubun-ubun yang sudah menutup sempurna, gejala lain seperti muntah, kejang, nyeri kepala dan penurunan kesadaran juga merupakan beberapa indikasi bahwa anak mengalami hidrosefalus. Pemeriksaan ukuran lingkar kepala secara rutin merupakan salah satu upaya mendeteksi penyakit ini sedini mungkin.

Deteksi dini memungkinkan pengoptimalan penanganan, sehingga anak dapat segera ditangani dan terhindar dari gangguan penyerta yang timbul akibat penyakit ini seperti gangguan mental dan perkembangan motorik anak. Penanganan hidrosefalus hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti pengeluaran cairan dikepala maupun pembedahan. Oleh karena itu, apabila anda menemukan anak dengan gejala-gejala hidrosefalus diatas, segera bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Share this post

Repost 0

1 2 > >>